Profil

Aksi Nyata Dosen Komunikasi Perangi Stunting Melalui Media Animasi Kreatif

Aksi Nyata Dosen Komunikasi Perangi Stunting Melalui Media Animasi Kreatif
Aksi Nyata Dosen Komunikasi Perangi Stunting Melalui Media Animasi Kreatif

JAKARTA - Dunia akademik seringkali dicitrakan hanya berkutat pada menara gading teori. Namun, Faris Budiman Annas mematahkan stigma tersebut. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina ini membuktikan bahwa ilmu komunikasi bukan sekadar kurikulum di ruang kelas, melainkan alat vital untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa. Melalui pendekatan visual yang jenaka dan animasi yang interaktif, ia membawa misi besar: membumikan literasi kesehatan dan gizi bagi anak-anak di wilayah rentan.

Langkah Faris ini sejalan dengan tren global di mana karya visual mulai mendominasi strategi komunikasi kesehatan. Sebagaimana serial "Upin dan Ipin" yang mengajarkan pencegahan virus atau film "Inside Out 2" yang membedah kesehatan mental, Faris meyakini bahwa animasi adalah bahasa yang paling mudah dimengerti oleh anak-anak untuk memahami isu gizi yang kompleks.

Transformasi Kampanye Kesehatan Melalui Teknologi Visual

Dalam pandangan Faris, efektivitas sebuah pesan sangat bergantung pada kemasannya. Baginya, anak-anak tidak bisa dipaksa menerima informasi kesehatan melalui metode ceramah yang kaku. Perlu ada adaptasi strategi yang mengikuti perkembangan zaman dan teknologi informasi agar pesan tersebut tidak hanya sampai, tapi juga menetap di ingatan mereka.

"Kita berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format yang menarik seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak merasa membosankan karena kita kemas dan desain programnya sesuai usia mereka," ungkap Faris dalam penjelasannya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa era digital menuntut kolaborasi antara informasi dan hiburan. Penggunaan media digital hingga permainan interaktif menjadi kunci untuk memutus cara-cara konvensional yang mulai ditinggalkan. "Kita implementasikan teknologi dalam literasi gizi dan kesehatan. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," tambahnya. Strategi ini terbukti tidak hanya memikat anak-anak, tetapi juga memudahkan orang tua dalam menyerap edukasi gizi secara lebih atraktif.

Jejak Kemanusiaan di Pelosok Nusa Tenggara Timur

Komitmen Faris dalam isu kesehatan anak bukan sekadar wacana teoretis. Hal ini ia manifestasikan melalui keterlibatan aktif sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia atau Yayasan Balita Sehat. Lembaga nirlaba ini menjadi wadah bagi Faris untuk menyalurkan kepakarannya demi meningkatkan kualitas hidup ibu dan anak, terutama di daerah-daerah tertinggal.

Salah satu fokus utamanya adalah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi ini memang masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia dengan prevalensi stunting yang mencapai angka 37 persen pada periode 2023-2025. Masalah gizi buruk yang berkelindan dengan kemiskinan dan keterbatasan akses air bersih menjadi alasan kuat mengapa Faris memilih terjun langsung ke sana.

"Kita punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah stunting," paparnya mengenai misi sosial tersebut.

Dari Fotografer Hingga Arsitek Strategi Komunikasi

Keterlibatan Faris di NTT telah dimulai sejak tahun 2019. Pada awalnya, ia memanfaatkan keterampilan teknisnya sebagai fotografer dan videografer untuk mendokumentasikan realitas lapangan sekaligus menyiapkan materi kampanye. Pengalaman langsung bersentuhan dengan masyarakat akar rumput di NTT memberikan perspektif yang kaya bagi karier akademisnya.

Seiring berjalannya waktu, peran Faris berkembang menjadi lebih strategis. Sebagai Sekretaris FMCH Indonesia, ia kini bertanggung jawab memberikan arahan taktis, memimpin sesi brainstorming, hingga melakukan pemantauan terhadap berbagai kampanye kesehatan yang dijalankan lembaga tersebut. Jangkauan dukungannya pun kini meluas, mencakup wilayah Jakarta hingga Bogor.

Di bawah arahannya, FMCH mengembangkan beragam inovasi literasi seperti perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, hingga seri animasi berjudul ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ yang disebarkan secara masif melalui media sosial. Seluruh upaya ini bermuara pada satu target besar: menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi dan pola asuh. "Kalau anak-anak ini dan orang tua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," tandasnya.

Membangun Kepekaan Sosial bagi Akademisi Muda

Faris Budiman Annas merupakan representasi langka dari sosok akademisi muda yang memiliki kepekaan sosial tinggi. Keputusannya untuk menghabiskan waktu di lapangan dan bergabung dengan lembaga nirlaba lahir dari latar belakangnya yang sangat aktif, tidak hanya di ranah akademik dan bisnis, tetapi juga di sektor sociopreneurship.

Keberaniannya menanggalkan kenyamanan kantor demi melakukan monitoring di daerah terpencil menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya. Faris menunjukkan bahwa keahlian profesional—dalam hal ini ilmu komunikasi—memiliki kekuatan untuk mengubah nasib sebuah komunitas jika dibarengi dengan ketulusan dan inovasi.

Melalui animasi dan media kreatif, Faris sedang merajut harapan agar anak-anak di seluruh pelosok Indonesia, mulai dari pusat kota hingga pelosok NTT, bisa tumbuh sehat tanpa bayang-bayang stunting. Baginya, setiap detik tayangan animasi yang dilihat anak-anak adalah langkah kecil menuju perbaikan kualitas hidup bangsa di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index